Strategi Perang Mulut
Bukan hanya negosiasi tingkat tinggi yang perlu win-win solution. ’Perang’ dengan pasangan pun ternyata sebaiknya juga berakhir dengan solusi yang bikin happy dua pihak. Tanpa disadari, kalau sedang bertengkar, kita sibuk mengumbar kata-kata. Padahal, kata-kata itu tidak menuju pokok permasalahan. Akhirnya, bukan mendapat solusi, malah cuma saling sakit hati. 
INI STRATEGINYA!
Perang mulut sebenarnya adalah ekspresi kemarahan. Tapi, kalau kemarahan itu tidak tepat sasaran, tetap saja tak ada gunanya. Hanya buang-buang energi. Karena itu, simak enam strateginya.
1 TENTUKAN WAKTU
Anda dan pasangan adalah orang yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk menumpahkan emosi. Setiap momen yang Anda pilih ada konsekuensinya. Pilihannya ada dua. Pertama, menunggu sampai sama-sama tenang. Plusnya, masalah bisa terselesaikan dengan kepala dingin. Minusnya, dibutuhkan waktu cukup lama, sementara Anda mungkin ingin masalah ini diselesaikan segera.
Kedua, ketika Anda dan pasangan justru sama-sama sedang marah. Keuntungan, Anda bisa langsung bertanya dan mengekspresikan diri. Kerugian, karena sama-sama emosi, hasilnya bisa debat kusir.
2 KATAKAN DARI SUDUT PANDANG ANDA
Gunakan cara ‘I message’. Ungkapkan dulu apa yang Anda rasakan dari sudut pandang Anda. Lebih baik katakan, “Kamu tahu nggak, aku kesepian setiap kamu pulang malam.” Jangan bilang, “Kamu kenapa, sih, pulangnya malam terus?”
Dengan ‘you message’, kita seolah menuding dia melakukan kesalahan. Buat pria, dituding seperti ini akan membuatnya merasa tidak nyaman. Sebaliknya, dengan ‘I message’, dia akan mengerti, apa yang dia lakukan ternyata berpengaruh pada orang yang dia cintai. Hasilnya, dia lebih berempati.
3 TAHAN NADA SUARA
Kalau hati sedang panas, terkadang kita agak kesulitan menahan diri untuk tidak mengeluarkan nada tinggi. Jangan lupa, kalau pasangan melakukan hal tersebut, itu hanyalah ekspresi marah, bukan berarti membenci Anda. Tarik napas dalam-dalam, agar oksigen masuk ke otak, dan Anda bisa berpikir rasional lagi. Ada baiknya pasangan mengingatkan, jika salah satu pihak sudah mulai melenceng dari ribut sehat.
4 JANGAN MENGUNGKIT KESALAHAN
Mengingat dan mengungkit kesalah an pasangan akan sangat merugikan Anda. Pertama, belum tentu ia ingat peristiwa itu. Kedua, ibarat luka, ketika dibuka, akan makin sakit. Hasilnya, Anda malah memperbesar masalah, dan membuat perbincangan jadi tidak bermutu. Itu membuat emosi Anda dan pasangan menjadi makin labil, sehingga sulit fokus pada permasalahan saat ini.
Hindari juga kata-kata kasar. Anda mungkin lega ketika mengatakannya. Tapi, percayalah, masalah bakal makin ruwet.
5 CIPTAKAN SUASANA KONDUSIF
Suasana yang tenang sangat membantu menyelesaikan masalah. Mungkin Anda sedang marah. Tapi, daripada tidak menemukan jalan keluar, lebih dulu buatkan pasangan minuman kesukaannya, atau sediakan malam malam seperti biasa. Setelah itu, baru boleh perang. Sebab, saat itu kemungkinan besar tingkat emosi Anda berdua sudah menurun.
6 UNGKAPKAN FAKTA
Jangan hanya bicara soal perasaan, tapi ungkapkan juga fakta. Misalnya, ketika pasangan melanggar kesepakatan batas belanja untuk hobinya, katakan, ”Kamu inget nggak, kamu janji hanya belanja pernak-pernik sepeda maksimal Rp1 juta. Baru dua minggu, kamu sudah habiskan Rp3 juta.” Pasangan akan lebih mendengar keluhan Anda dibanding Anda marah.




comment closed